28 September 2007

Nabi Muhammad Diramalkan Dalam Veda

Bukti Keuniversalan Veda
Sekedar klaim atau fakta??


Kita tentu telah mendengar adanya ramalan dalam kitab-kitab injil atau Al-Quran tentang akan munculnya nabi, rasul atau guru spriritual. Umumnya,ramalan tersebut menyebutkan tentang nama, ciri-ciri, ataupun kualifikasi guru spiritual yang akan muncul tersebut. Namun, seperti telah dapat diduga, ramalan tersebut pastilah hanya tentang tokoh, nabi atau rasul dalam “agamanya” itu sendiri. Yesus diramalkan dalam kitab Injil, dan Nabi Muhammad diramalkan dalam Al-quran. Bagaimana dengan kitab Veda?

Kalau kita pelajari dan telaah secara seksama, ternyata Veda penuh dengan ayat-ayat yang berisi ramalan seperti itu. Kita tentu tidak asing lagi dengan konsepo avatara. Uniknya Veda tidak hanya meramalkan avatara yang akan muncul dan mengajarkan “agama Hindu“ saja. Banyak ayat Veda yang meralmalkan kemunculan nabi, rasul, atau tokoh dari “agama lain”. Nabi Muhammad, adalah salah satu contohnya. Nama, ciri-ciri ajran dan misi kemunculannya, telah diramalkan dalam kitab Atharva Veda dan Bhavisya Purana.
Sudah barang tentu, ada pihak-pihak yang menyangsikan kebenaran ayat-ayat itu. Banyak para sarjana Barat yang berpendapat bahwa ayat-ayat ramalan dalam Veda ditulis dan disusun belakangan, yaitu setelah kehidupan para nabi atau tokoh yang diramalkan itu. Tujuannuya? Yam, supaya Veda dianggap paling lengkap!!
Tuduhan seperti itu dapat dengan mudah kita sangkal dan sanggah dengan menyampaikan bukti-bukti baik secara ilmiah, maupun bukti berdasarkan uraian dari kitab-kitab Veda yang lain. Sanatana Dharma edisi mendatang akan mencoba membahas hal itu. Sekarang marilah kita bersama-sama menyimak ramalan tentang Nabi Muhammad dalam kitab Bhavisya Purana dan kitab Atharva Veda. Uraian ini didukung oleh berbagai buku referensi antara lain: The Hidden Glory of India, karya Steven J. Rosen (2002), East-West Dialogue : Krishna Conciousness and Cristianity (Dialog antara The Rev. Alvin. V. P. Hart & Satyaraja Das Adhikari (1989), dan Vedic Archeology karya Steven J. Rosen (1995), seorang sarjana Hindu yang sebelumnya terlahir dalam keluarga Yahudi.
Seperti kita ketahui, Nabi Muhammad dianggap sebagai rasul atau nabi terakhir dalam Islam. Namun nama dan misi kemunculan Beliau telah diramalkan dalam kitab Atharva Veda, Kanda 20, Sukta 127, Mantra 1-3. Dalam kitab Bhavisya Purana, Parva 3, Kandha 3, Adhya 3, Sloka 5 Nabi Muhammad diramalkan dalam ayat sebagai berikut :


Etan mitrantare mieccha
Acaryana samanvitah
Mahamad iti khyatah
Sivyagrasva samanvitah


Artinya : “An illeterate teacher will come along, Mohhamed by name, and he will give religion to his fith-class companion”
Terjemahan bebasnya : Seorang guru (acarya) yang buta huruf akan datang, namanya Mohammad. Beliau akan mengajarkan agama pada kaum pemuja berhala (mleccha)
Jadi penyebutan nama avatar yang akan muncul adalah standar yang akan digunakan dalam Veda. Ini dimaksudkan untuk menguji kebenaran identitas avatar yang sejati. Dan menghindarai penipuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mungkin mengklaim dirinya sebagai Tuhan atau utusan Tuhan. Jadi telah ada mekanis recheck.
Seperti dalam contoh diatas, nama Mahamad tersebut dalam ayat tersebut. Beliau diramalkan sebgai orang suci diantara kaum buta huruf . Dalam terminology Veda, Nabi Muhammad, Yesus dan Buddha disebut sebagai saktya aveshya avatara atau kekuasaaan untuk menjalankan misi khusus Tuhan sesuai dengan tuntutan keadaan tiap zaman.

Untuk dapat mengetahui kebenaran ramalan ayat itu, kita bisa sekilas menyimak sejarah bangsa Arab, khusunya kota Mekkah dan Arab secara umum pada masa menjelang Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Ini akan berhubungan dengan sejarah panjang berdirinya Ka’bah yang disebut sebagai “Baitullah”, atau ‘Rumah Allah’. Menurut Akif Manaf Jabar PH.D, dalam bukunya the Hidden Treasure of Al-quran (1997) terbitan The Dabhir Khas Book Trust, Nabi Muhammad terlahir sebagai cucu dari Abhu Muttholib, penguasa kota Mekkah yang dipercaya untuk mengurus dan mengelola Ka’bah. Pada masa itu, bangsa Arab telah mencapai kemerosotan sedemikian rupa, sehingga mereka telah melupakan Ka’bah sebagai perantara yang dibenarkan untuk meuja Allah. Bangsa Arab saat itu memuja berhala, yang umumnya merek buat sendiri Ada juga Arca Al-Manat, yang dianggap sebagai permaisuri Allah, atau ‘Dewi Laksmi, Goddess of Fortune” ada patung Al-lat dan Allah. Semula pemujaan kepada ketiganya ini dibenarkan, karena dianggap sebagai perantara antara manusia dan Allah.
Mereka sadar jbahwa sangat sulit bagi manusia biasa untuk mencapai Allah sendirian dibutuhkan perantara orang suci yang ‘dekat’ dengan Allah. Orang suci inilah yuang doanya lebih didengarkan oleh Allah. Karena itu, dibuatlah patung dewa-dewa dan orang suci itu, sebagai media untuk pemujaan kepada Allah. Mereka tahu, bahwa ada dewa yang dipercaya oleh Allah untuk bertugas mengatur curah hujan, dan karenanya, untuk meminta hujan, mereka berdoa dan memuja dewa hujan, bukan kepada Allah secara langsung. Begitu pula untuk kebutuhan lainnya. Dalam pemujaan itu, mereka mempersembahkan makanan, dupa, dan hadiah yang mahal-mahal. Sayangnya, mereka kemudian lebih menonjolkan dan mengutamakan pemujaan kepada patung-patung itu, sampai mengabaikan pemujaan kepada Allah. Padahal, Ka’
Bah didirikan oleh Nabi Adam, dan Hajjar-Al-Ashvad itu dipercaya sebagi penjelmaan malaikat penjaga Adam dan Hawa, yang karena kelalaian menjaga mereka, dikutuk menjadi batu oleh Allah dan dibuang kebumi bersamaan dengan dibuangnya Adam dan Hawa. Menurut sejarah, dulu batu itu berwarna putih susu. Ia berubah menjadi hitam karena menerima dosa dari para peziarah yang menyentuhnya. Selanjutnya, Adam dan Hawa menjadikan Batu Hitam itu sebagai perantara yang dibenarkan untuk memuja Allah, dan menempatkan Batu Hitam itu pada salah satu sudut Ka’bah, untuk menandai titik awal proses mengelilingi Kabah dalam rangka pemujaan kepada Allah. Tradisi itu dipelihara dari generasi ke generasi. Namun pada masa menjelang Nabi Muhammad diturunkan, tradisi mengelilingi Ka’bah tersebut menyimpang. Menurut tradisi, kaum pria mengelilingi Ka’bah itu siang hari dengan telanjang bulat, dan kaum wanita mengelilinginya secara terpisah pada malam hari. Namun penyimpangan terjadi, sehingga mereka bahkan ada yang melakukan zinah dalam Ka’bah. Allah mengutuh menjadi batu, sepasang remaja yang berzinah dalam Ka’bah itu. Namun karena kemerosotan moral, bangsa Arab saat itu bahkan memuja patung dua pendosa itu. Bersamaan dengan itu, hampir 360 arca yang ditempatkan di dalam dan diluar Ka’bah. Sehingga pemujaan pada Allah praktis terlupakan.
Dalam latar belakang suasana seperti itulah, dibutuhkan seoerang utusan Tuhan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kembali penyimpangan prinsip-prinsip dharma, yaitu pemujaan kepada Allah, yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa—milik kita bersama.
Dalam Bhagavad-gita 4.7 dan 4.8, Sri Krsna menyatakan :


Yadayada hi dharmasya
Glanir bhavati bharata
Abhyutthanam adharmasya
Tadatmanam srjamy aham
Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot, dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, wahai Putra Bharata.”

Paritranaya sadhunam
Vinasaya ca duskrtam
Dharma-samsthapanarthaya
Sambhavami yuge yuge


Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang-orang jahat, dan menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku menjelma pada setiap jaman.”
Demikianlah, dalam situasi sperti di Arab itu, Tuhan mengutus Nabi Muhammad dengan misi sebgaimana tercantum dalam ayat Bhagavad-gita di atas, terutama guna menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang telah disimpangkan. Penyimpangan yang selslu terjadi pada setiapo jaman. Kitab Veda juga menguraikan, bahwa dalam menegakkan prinsip-prinsip dharma, Tuhan akan menyampaikan ajaran kepada umat di wilaya tertentu dengan memperhatikan waktu, latar belakang, serta kecerdasan umat yang akan menerimanya. Hal ini dapat menjawab pertanyaan : “Kalalu betul Tuhan itu satu, mengapa ajarannya berbeda-beda satu dengan yang lainnya?” Atau “Mengapa ada banyak agama?”. Seperti misalnya, mengapa kita mengenal konsep reinkarnasi, konsep moksa, dan lain-lain yang tidak diajarkan secara terang-terangan.
dalam kitab suci yang lain.
Dalam sejarah Islam terbukti bahwa Nabi Muhammad meman buta huruf sampai umur 40 tahun. Beliau baru bisa membaca, setelah Beliau diangkat oleh Allah sebagai Rasullallah untuk menerima wahyu Al-Quran, melalui malaikat Jibril, setelah bertapa di Gua Hirra. Ayat-ayat Al-Quranditerima oleh Nabi Muhammad selama 22 tahun, diawali pada tanggal 17 Ramazan (tgl 22 Desember 610 M). Karena itulah setiap tanggal 17 Ramadhan diperingati oleh umat Islam segai hari munculnya Al-Quran atau Nuzulul Qur’an.
Sesuai dengan ramalan dalam kitab Bhavisya Purana tersebut diatas, Nabi Muhammad harus mengajarkan kaum mleccha. Mleccha adalah sebutyan untuk manusia pemuja berhala dan berzinah denga saudara kandung sendiri, yuang lebih rendah dari kaum sudra atu disebut kaum jahilliayah dlam istilah Islam. Dlam keadaan seperti itu, Beliau harus lebih banyak menggunkan kekerasan dan perang dlam mengajarkan Islam. Karena situasinya tidak memungkinkan untuk berdakwah secara damai. Nabi Muhammad bahkan harus hijrah dari Mekkah ke Madinah, karena bangsa Quraish berusaha membunuhnya saat mengajarkan amanat Al-Quran. Tidak mengherankan, jika konsep jihad juga amat kentara dalam ayat-ayat Al-Qurandan Hadist. Itu dalam konteks zaman jahilliyah. Sayangnya, ayat-ayat itu sering dimaknai secara tekstual oleh sebagian orang Muslim yang fanatik buta, tanpa memahami konteks bagaimana situasi tertentu saat ayat-ayat tersebut diturunkan.
Begitupun, ungkapan Lailahaillalah, ‘Tiada Tuhan Selain Allah’yang gencar sekali kita dengar itu. Yam, karena pada waktu itu, bangsa jahilliyah itu memuja hampir 360 berhala yang diletakkan dalam Ka’bah dan sekitarnya. Mereka memuja Tuhan-Tuhan berhala itu, padahal nenek moyang mereka sejak jaman Nabi Adam telah mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.Karena itulah, dalam konteks itu, untuk menegakkan kembali jaran Allah dan pemujaan kepada Allah, Al-Quarn menegaskan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH. Artinya, hanya Allah-lah Tuhan, dan bukan berhala-berhala itu. Itu sebabnya dalam Islam sangat dilarang untuk menggambarka Allah dalam wujud apapun karena trauma dengan sejarh pemujaan berhala. Itu namanya menyekutukan Allah. Musyrik, syirik. Tapi nama Tuhan memang bukan hanya Allah., Buktinya, kita juga akan menemukan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah memiliki Asmaaa-ul-hussana, yaitu 100 nama Allah, yang mana nama-nama itu diberikan berdasarkan berbagai sifat yang dimiliki oleh Allah. Dari 100 nama itu, baru 99 yang diketahui. Nama ke-100 masih rahasia. Misalnya, Allah memiliki nama lain Al-allim yaitu “Beliau Yang Maha Tahu”, atau Al-Kudus—‘Beliau Yang Maha Suci’. Kalau betul Tuhan itu HANYA ALLAH, mengapa ada nama-nama lain selain Allah? Lagi pula nama-nama itu dalam bahasa Arab. Kalau kemudian olehumat Hindu, dalam bahasa Sansekerta, Tuhan Yang Maha Tahu itu disebut Vidhi atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, apakah itu berearti bukan Tuhan? Inilah salah satu bukti bahwa apa yuang ada di Veda, belum tentu ada di tempat lain. Salah satu bukti bahwa Veda bersifat universal. Ingin bukti kelebihan lainnya? Yang jelas banggalah beragama Hindu.

21 September 2007

Kita Bukan Badan

dehi nityam avadhyo 'yam dehe sarvasya bharata

tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi

“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk makhluk apapun”. (Bg.2.30).

Langkah pertama dalam keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan. Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,” tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badanRadhagovindagaurangaprabhupada jasmani. Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang dasar sebagai kesadaran yang suci.

Kalau kita masih mempunyai pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh itu.

Adanya kesadaran tidak dapat ditolak. Sebuah tubuh tanpa kesadarannya adalah mayat. Selekas kesadaran itu diambil dari badan, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, dan kuping tidak bisa mendengarn. Anak-anak pun dapat mengerti hal itu. memang benar bahwa, adanya kesadaran merupakan syarat mutlak untuk menggerakkan badan. Apa artiny kesadaran itu ? Seperti halnya pemanas atau asap merupakan gejala-gejala dari api, begitu pula kesadaran merupakan gejala dari roh. Tenaga dari roh atman dihasilkan dalam bentuk kesadaran. Memang, adanya kesadaran membuktikan adanya roh. Filsafat ini tidak hanya disebut dalam Bhagavad-gita saja, tetapi juga merupakan kesimpulan dari semua Pustaka Suci Veda.

Prabupada_2
Para penganut Sankaracarya yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, beserta pula para Vaisnava yang mengikuti garis perguruan rohani dari Sri Krsna, mengakui adanya roh sebagai kenyataan, tetapi ada suatu golongan ahli Filsafat yang tidak mengakui adanya roh. Penganut-penganut Filsafat tersebut menyatakan bahwa, pada suatu tingkatan kombinasi dari unsur-unsur alam menghasilkan kesadaran, tetapi pendapat itu terbukti salah oleh kenyataan bahwa, walaupun segala bahan-bahan alam tersedia, kita tidak dapat menghasilkan kesadaran dari unsur-unsur itu. semua unsur alam barang kali ada dalam sebuah mayat, tetapi kita tidak sanggup menghidupkan mayat itu sehingga menjadi sadara. Badan ini tidak seperti mesin. Apabila suatu bagian dari sebuah mesin menjadi rusak, maka bagian itu dapat titukar, dan mesin itu dapat bekerja lagi. Tetapi apabila badan menjadi rusak dan kesadaran keluar dari badan, maka tidak mungkin kita menukar bagian badan yang rusak dan menghidupkan kembali kesadarannya. Roh itu lain daripada tubuh, dan selama roh masih ada, badan bisa bergerak, tetapi tidak mungkin menggerakkan badan kalau tidak ada roh.

Oleh karena kita belum dapat melihat roh dengan memakai indria-indria kita yang kasar, kita tidak mengakui adanya roh. Banyak sekali hal-hal yang diluar kesadaran kita, namun hal-hal itu benar-benar ada, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita belum bisa melihat udara, siaran radio, suara, ataupun bakteri-bakteri yang sangat kecil dengan memakai indria-indria kita yang kasar. Tetapi ini tidak berarti hal-hal tersebut tidak ada. Dengan memakai mirkoskop dan alat-alat yang lain, banyak sekali benda-benda yang dapat dilihat, padahal adanya benda-benda itu dahulu kala tidak diakui oleh indria-indria yang kurang sempurna. Hendaknya kita jangan menarik kesimpulan bahwa tidak ada roh yang ukurannya sekecil atom hanya karena roh belum dapat dilihat oleh indria-indria ataupun dengan memakai alat-alat. Akan tetapi adanya roh itu dapat dimengerti dari gejala-gejala dan hasi-hasilnya.

Dalam Bhagavad-gita Sri Krsna menunjukkan bahwa, segala kesengsaraan disebabkan karena kita mempersamakan diri dengan badan.

matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah

agamapayino 'nityas tams titiksasva bharata

“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikana halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg. 2.14).

Pada musim panas barangkali ktia bersenang hati kena air, tetapi pada musim dingin kita menghindari air yang sama, karena terlau dingin. Baik pada musim panas maupun pada musim din gin, airnya sama saja, tetapi kita merasakan bahwa air itu menyenangkan atau menyakitkan karena hubungannya dengan badan. Segala perasaan keduka-citaan dan kesenangan disebabkan oleh badan. Asal saja ada keadaan yang tertentu, badan dapat merasakan kesenangan dan keduka-citaan. Sebenarnya kita rindu akan kebahagiaan karena kedudukan roh yang dasar ialah kedudukan kebahagiaan. Roh-roh adalah bagian-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai isifat yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa bersifat sac-ideology-ananda-vigrahan. Yaitu, perwujudan dari pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Memang nama Krsna, yang tidak hanya dimiliki satu kelompok tertentu, berarti, kebahagiaan yang paling tinggi”. Krs adalah sarinya kebahagiaan, dan kita sebagai bagian-bagian dari Beliau yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau, kita pun rindu akan kebahagiaan. Satu tetes air laut mempunyai segala sifat dari lautan yang luas, demikian pula kita mempunyai sifat-sifat tenaga yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa, padahal kita hanya bagian-bagian yang kecil sekali dari Keseluruhan Yang Utama, Tuhan Yang Maha Esa.

Sungguhpun roh sangat kecil sekali seperti atom, namun roh lah yang menggerakkan badan sehingga badan itu banyak bertindak dengan cara yang ajaib. Alangkah banyaknya kota-kota, jalan raya, jembatan, gedung yang tinggi, tugu dan peradaban yang agung yang kita lihat di dunia, tetapi siapakah yang membuat segala-galanya itu ? Segala-galanya dibuato leh bunga api rohani yang sangat kecil, yang berada didalam badan. Kalau keajaiaban-keajabain seperti yang tersebut diatas dapat dilakukan oleh bunga api rohani yang sangat kecil, maka kita belum dapat membayangkan apa yang dapat dicapai oleh Keseluruhan Rohan Yang Paling Utama. Keinginan yang wajar bagi bunga api rohani yang kecil ialah keinginan untuk mendapatkan sifat-sifat dari keseluruhan, yaitu pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Tetapi keinginan-keinginan tersebut sekarang dialang-alangi karena badan jasmani. Keterangan tentang cara mencapai apa yang diinginkan oleh roh itu diberikan dalam Bhagavad-gita.

Sekarang ini kita berusaha untuk mencapai kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan dengan cara memakai alat yang kurang sempurna. Sesungguhnya kemajuan kita menuju pada tujuan-tujuan tersebut dialangi-alangi oleh badan jasmani, karena itu kita harus menginsafi kehidupan kita diluar badan tidaklah cukup. Kita harus selalu menjaga agar diri kita menyediri dari badan dan mengendalikan badan, janganlah kita menjadi hamba untuk badan. Kalau kita sudah tahu cara mengemudi mobil dengan baik, maka mobil itu akan melayani kita dengan baik, tetapi kalau kita belum tahu cara mengemudikan, maka kita berada dalam keadaan bahaya.

Badan terdiri dari indria-indria, dan indria-indria selalu haus akan obyeknya. Mata melihat orang yang cantik atau tampan, kemudian memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada gadis yang cantik, disana ada lelaki yang tampan. Marilah kita kesana untuk melihat.”

Telinga memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada musik yang bagus. Marilah kita pergi mendengar musik itu”. Lidah mengatakan “Disana ada restoran yang bagus yang menghidangkan makanan yang lezat. Marilah kita kesana”. Seperti itulah indria-indria menarik diri kita dari suatu tempat ketempat yang lain, dan karena itu kita menjadi bingung.

indriyanam hi caratam yan mano’ nuvidhiyate

tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi

“Bagaikan kapal diatas air dibawah pergi oleh angin yang keras, begitu juga kecerdasan seseorang dapat dibawah pergi bahkan oleh satu saja diantara indria-indria yang menjadi pusat perhatian bagi Pikiran”. (Bg. 2.67).

Kita harus belajar cara mengendalikan indria-indria. Gelar gosvami diberikan kepada orang yang sudah mengetahui cara menklukan indria-indria. Go berarti “indria-indria, dan svamiPrabupada_2 berarti “pengendali, demikian orang yang dapat mengendalikan indria-indria disebut gosvami. Krsna menunjukkan bahwa, orang yang mempersembahkan dirinya dengan badan jasmani yang bersifat khalayan, dia tidak dapat menjadi mantap dalam identitasnya yang benar, yaitu, sebagai roh atau atman. Kebahagiaan jasmani berkelip-kelip dan memabukkan, dan kita tidak dapat menikmati kebahagiaan jasmani karena sifatnya sementara saja. Kebahagian yang sejati berasal dari roh atau atman, bukan dari badan. Kita harus membentuk kehidupan kita supaya kita tidak akan disesatkan oleh kebahagiaan jasmani. Bagaimanapun kalau kita disesatkan, maka tidak mungkin kesadaran kita dijadikan mantap dalam identitasnya yang sejati, yaitu lain daripada badan.

bhogaisvarya-prasaktanam ta yapahrta-cetasam

vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate

trai-gunya-visaya veda nistrai-gunyo bhavarjuna

nirdvandvo nitya-sattva-stho niryoga-ksema atmavan

“Orang-orang yang pikirannya terlau terikat dengan kepuasan indria-indria dan kekayaan duniawi sehingga pikirannya menjadi bingung karena hal-hal itu, mereka tidak dapat bertambah hati dengan mantap untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Veda pada umumnya menguraikan tentang tiga sifat alam (tri-guna), O Arjuna. Atasilah tiga sifat alam itu. atasilah semuanya. Lepaskanlah diri anda dari segala hal yang relatif dan kecemasan akan keuntungan dan keselamatan, dan menjadi mantap pada Paramatma (Roh Yang Utama)”. (Bg. 2.44-45).

Kata Veda berarti “buku ilmu pengetahuan.” Ada banyak buku pengetahuan yang lain sesuai dengan negeri, penduduk, lingkungan, dan sebagainya. Di India, Kita-kitab Pengetahuan disebut Veda. Di negara-negara Barat, Kitab-Kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Quran. Apa maksud daripada semua Kitab-kitab tersebut ialah melatih kita agar kita dapat mengerti kedudukan kita sebagai roh-roh yang bersifat suci. Maksudnya ialah mengendalikan kegiatan jasmani dengan aturan-aturan yang tertentu disebut norma-norma moril. Misalnya dalam Kitab Injil ada sepuluh perintah yang dimaksudkan untuk mengatur kehidupan. Badan harus dikendalikan agar kita dapat mencapai kesempurnaan yang paling tinggi, dan tanpa prinsip-prinsip untuk mengatur, tidak mungkin ktia menyempurnakan kehidupan kita. Aturan-aturan mungkin berbebda diantara satu negeri dan negeri yang lain, atau diantara salah satu Kitab Suci dan Kitab Suci yang lain, tetapi itu tidak menjadi soal sebab peraturan-peraturna tersebut dibuat sesuai dengan zaman, keadaan dan mental rakyat (desa, kala, patra). Tetapi prinsipnya sama saja, yaitu, pengendalian secara tertatur. Begitu pula pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk dituruti oleh penduduk negara. Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan ataupun dalam peradaban tanpa ada peraturan-peraturan. Dalam sloka yang disebut diatas, Sri KRsna memberitahukan kepada Arjuna bahwa, aturan-aturan dalam Veda dimaksudkan untuk mengendalikan tiga sifat alam, yaitu sattva (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan) traigunya-visaya vedah). Akan tetapi, Krsna memberi nasehat kepada Arjuna agar Arjuna menjadi mantap dalam kedudukannya yang dasar sebagai roh diluar hal-hal yang relatif dari alam duniawi.

Sebagaimana ditunjukkan tadi, hal-hal relatif tersebut, seperti misalnya, panas dan dingin, rasa senang dan rasa sakit, timbul karena hubungan indria-indria dengan obyek-obyeknya. Dengan kata lain, hal-hal tersebut muncul karena seseorang mempersamakan dirinya dengan badan. Krsna Menerangkan bahwa, orang yang gemar akan kenikmatan dan kewibawaan dipengaruhi oleh kata-kata dari Veda yang menjanjikan kebahagian dan kenikamtan di svarga dengan cara melakukan pengorbanan dan kegiatan yang teratur. Kenikmatan adalah hak asasi kita, sebab itu merupakan sifat dari roh, tetapi roh itu berusaha menikmati secara duniawi, dan inilah kesalahannya.

Semua orang mencari kenikmatan dalam hal-hal duniawi dan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang menjadi ahli ilmu kimia, ada yang menjadi ali ilmu fisika, ahli politik, ahli seni rupa, dan lain-lain. Seorang orang mengetahui banyak tentang sesuatu hal, dan juga mengetahui sekedar tentang segala hal, dan inilah yang biasanya disebut pengetahuan. Tetapi ketika kita meninggalkan badan, segala pengetahuan tersebut akan hilang. Dalam penjelmaan dahulu, mungkin seseorang pernah menjadi orang yang sangat berpenegetahuan, tetapi selama penjelmaan ini dia harus mulai lagi dengan masuk sekolah dan belajar cara membaca dan menulis dari dasar-dasarnya. Orang-orang sudah lupa akan segala pengetahuan yang didapatinya selama penjelamaannya yang dahulu. Sebenarnya kita mencari pengetahuan yang kekal, tetapi pengetahuan yang kekal itu tidak dapat diperoleh dengan badas jasmani ini. Kita semua mencari kebahagiaan melalui badan-badan ini, tetapi kenikmatan jasmani bukan kenikmatan yang sejati. Kenikmatan jasmani bersifat tiruan saja. Kita harus mengerti bahwa, kalau kita ingin melanjutkan kenikmatan tiruan tersebut, maka kita tidak akan dapat mencapai kedudukan kita yang kekal, yaitu, kedudukan dimana kita menikmati untuk selamanya.

Harus dianggap bahwa badan itu adalah seperti keadaan sakit. Orang yang sakit tidak dapat menikmati sesuatu secara layak. Misalnya, orang yang sakit kuning merasakan manisnya gula sebagai pahi, tetapi orang yang sehat dapat merasakan anisnya gula itu. baik bagi orang yang sakit, maupun bagi orang yang sehat, gula nya sama saja, tetapi sesuai dengan keadaan kita rasanya lain. Kalau pengertian kehidupan jasmani yang telah diumpamakan sebagai keadaan sakit belum disembuhkan, maka tidak mungkin kita merasakan manisnya kehidupan rohani. Kalau kita belum sembuh dari pengertian tersebut, maka kehidupan rohan rasanya pahit bagi kita. Pada waktu yang sama, dengan meningkatkan kenikmatan kita dari kehidupan duniawi, kita semakin memperparah keadaan sakit. Orang yang sakit tyupus tidak boleh makan makanan yang padatr. Kalau seseorang memberi makanan yang padat kepada si penderita agar dia menikmati, kemudian si penderita makan makanan itu, maka dia menyebabkan penyakit itu menjadi semakin parah dan membahayakan keselamtan si penderita. Kalau kita benar-benar ingin bebas dari penderitaan duniawi, maka kita harus mengurangi kebutuhan dan kenikmatan kita yang bersifat jasmnai. Sebenarnya kenikmatan duniawi itu sama sekai bukan kenikmatan. Kenikmatan yang sejati tidak ada habis-habisnya. Dalam Mahabharata ada sebuah sloka yang berbunyi : ramante yogino, nante, yang berarti bahwa, para yogi (yogino) yang berusia untuk naik tingkat sampai tingkatan rohani, sebenarnya mereka menikmati (ramante), tetapi kenikmatan itu bersifat anante, yaitu tidak ada habis-habisnya. Ini karena kenikmatan para yogi ada hubungannya dengan Yang Maha Menikmati (Rama), yaitu, Sri Krsna. Sebenarnya Bhagavan Sri Krsna yang menikmati, dan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita :

bhoktaram yajna-tapasam sarva-loka-mahesvaram

suhrdam sarva-bhutanam jnatva mam santim rcchati

‘Para resi yang mengetahui bahwa akhirnya Aku yang menikmati hasil dari segala pertapaan dan pengorbanan (yajna), bahwa Aku Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua planet-planet dan dewa-dewa, dan bahwa Aku teman baik bagi setiap makhluk hidup, merekalah yang mencapai kedamaian bebas dari sedihnya kesengsaraan duniawi. (Bg. 5.29).

Bhoga berarti “kenikmatan”, dan kenikmatan kita berasal dari pengertian tentang kedudukan kita, yaitu, bahwa kita dinikmati. Sebenarnya yang menikmati ialaha Tuhan Yang Maha Esa, dan kita semua menikmati oleh Beliau.

Sebuah contoh daripada hubungan tersebut dapat ditemui di dunia ini, yaitu, hubungan antara suami dan isteri, sang suami yang menikmati (purusa), dan sang isteri yang dinikmati (prakrti). Kata pri berarti “wanita”. Purusa, atau kerohanian, adalah subyek, dan prakrti, atau alam, adalah obyek. Akan tetapi suami-istri keduanya berpartisipasi dalam kenikmatan. Apabila kenikmatan benar-benar ada, maka tidak ada perbedaan, misalnya bahwa suami lebih menikmati atau istrinya kurang menikmati. Walaupun lelaki yang lebih berkuasa, tidak ada perbedaan dalam rangka menikmati. Dalam skala yang lebih luas, tidak ada makhluk hidup yang menikmati.

Tuhan Yang Maha Esa tenaga-Nya menjelma menjadi banyak, dan kita ini penjelmaan-penjelmaan itu. Tuhan adalah satu yang tiada duanya, tetapi Beliau ingin supaya tenaga-Nya menjadi banyak supaya Beliau dapat menikmati. Kita sudah mengalami bahwa, kalau kita duduk sendirian di kamar bercakap-cakap dengan diri sendiri, hampir tidak ada kenikmatan. Akan tetapi, kalau ada lima orang, maka kenikmatan kita ditingkatkan, dan apabila kita dapat bercakap-cakap tentang Krsna bersama banyak orang, maka kenikmatannya lebih tinggi lagi. Kenikmatan berarti keaneka-warnaan. Tenaga Tuhan menjadi banyak demi kenikmatan Beliau, demiian kedudukan kita ialah sebagai “yang dinikmati. Walaupun Krsna yang menikmati dan kita yang dinikmati, semua dapat berpartisipasi dalam kenikmatan secara merata. Kenikmatna kita dapat disempurnakan apabila kita berpartisipasi dalam kenikmatan Tuhan. Tidak mungkin menikmati sendiri pada bidang-bidang jasmani. Dalam banyak sloka dari Bhagavad-gita dinasihati supaya orang jangan menikmati secara dunaiwi pada tingkatan badan jasmani yang kasar.

matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah

agamapayino 'nityas tams titiksasva bharata

“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikan halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg.2.14).

Badan jasmani yang kasar adalah akibat dari hal saling mempengaruhi dari tiga sifat alam, dan sudah ditakdirkan bahwa badan itu akan dibinasakan.

antavanta ime deha nityasyoktah saririnah

anasino prameyasya tasmad yudhyasva bharata

Yang dapat dibinasakan hanyalah tubuh dari makhluk hidup, dan makhluk hidup itu sendiri bersifat kekal, tidak dapat termusnahkan ataupun diukur ukurannya. Demikian, bertempurlah anda O putra dari keluarga Bharata. (Bg.2.18).

Demikian Sri Krsna memberi semangat kepada kita agar kita mengatasi pengertian kehidupan yang jasmani dan agar kita mencapai kehidupan rohani yang sejati.

gunan etan atitya trin dehi deha-samudbhavan

janma-mrtyu jara-duhkhair vimukto 'mrtam asnute

“Apabila makhluk yang berbadan dapat mengatasi tiga sifat tersebut, yaitu, kebaikan, nafsu dan kebodohan, maka ia dapat bebas dari kelahiran, kematian masa tua dan penderitaannya dan bahkan selama kehidupan ini pun ia dapat menikmati amrta. (Bg. 14.20).

Supaya kita dapat menjadi mantap pada tingkatan rohani yang disebut brahma-bhuta, diatas tiga sifat ala, kita harus memulai cara Kesadaran Krsna. Berkat dari Sri Caitanya Mahaprabhu, yaitu, cara mengucapkan nama-nama Krsna-Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare mempermudah cara tersebut. Cara ini disebut bhakti-roga atau mantra-yoga dan mantra itu dipergunakan oleh para rohaniawan yang paling agung. Bagaimana para rohaniawan insaf akan identitasnya diluar kehalhiran dan kematian, diluar badan jasmani, serta bagaimana mereka memindahkan dirinya keluar dari alam semesta sampai alam semesta rohani, itulah yang merupakan mata pembicaraan dalam bab-bab berikut.

(dikutip Dari Buku ”Diluar Kelahiran & Kematian” karangan Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada ; Acharya dan Pendiri dari International for Krishna Consciousness).**

NB: Dikutip untuk kalangan sendiri, dan keperluan preaching.

20 September 2007

Brahma Samhita 5.1





isvarah paramah krsnah
sac-cid-ananda-vigrahah
anadir adir govindah
sarva-karana-karanam

Krishna who is known as Govinda is the Supreme Godhead. He has an eternal blissful spiritual body. He is the origin of all. He has no other origin and He is the prime cause of all causes.

Krishna, yang dikenal dengan Govinda adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Tubuh Beliau kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Beliaulah asal muasal segalanya. Beliau tidak memiliki asal dan Beliau adalah penyebab dari segala penyebab.