28 September 2007

Nabi Muhammad Diramalkan Dalam Veda

Bukti Keuniversalan Veda
Sekedar klaim atau fakta??


Kita tentu telah mendengar adanya ramalan dalam kitab-kitab injil atau Al-Quran tentang akan munculnya nabi, rasul atau guru spriritual. Umumnya,ramalan tersebut menyebutkan tentang nama, ciri-ciri, ataupun kualifikasi guru spiritual yang akan muncul tersebut. Namun, seperti telah dapat diduga, ramalan tersebut pastilah hanya tentang tokoh, nabi atau rasul dalam “agamanya” itu sendiri. Yesus diramalkan dalam kitab Injil, dan Nabi Muhammad diramalkan dalam Al-quran. Bagaimana dengan kitab Veda?

Kalau kita pelajari dan telaah secara seksama, ternyata Veda penuh dengan ayat-ayat yang berisi ramalan seperti itu. Kita tentu tidak asing lagi dengan konsepo avatara. Uniknya Veda tidak hanya meramalkan avatara yang akan muncul dan mengajarkan “agama Hindu“ saja. Banyak ayat Veda yang meralmalkan kemunculan nabi, rasul, atau tokoh dari “agama lain”. Nabi Muhammad, adalah salah satu contohnya. Nama, ciri-ciri ajran dan misi kemunculannya, telah diramalkan dalam kitab Atharva Veda dan Bhavisya Purana.
Sudah barang tentu, ada pihak-pihak yang menyangsikan kebenaran ayat-ayat itu. Banyak para sarjana Barat yang berpendapat bahwa ayat-ayat ramalan dalam Veda ditulis dan disusun belakangan, yaitu setelah kehidupan para nabi atau tokoh yang diramalkan itu. Tujuannuya? Yam, supaya Veda dianggap paling lengkap!!
Tuduhan seperti itu dapat dengan mudah kita sangkal dan sanggah dengan menyampaikan bukti-bukti baik secara ilmiah, maupun bukti berdasarkan uraian dari kitab-kitab Veda yang lain. Sanatana Dharma edisi mendatang akan mencoba membahas hal itu. Sekarang marilah kita bersama-sama menyimak ramalan tentang Nabi Muhammad dalam kitab Bhavisya Purana dan kitab Atharva Veda. Uraian ini didukung oleh berbagai buku referensi antara lain: The Hidden Glory of India, karya Steven J. Rosen (2002), East-West Dialogue : Krishna Conciousness and Cristianity (Dialog antara The Rev. Alvin. V. P. Hart & Satyaraja Das Adhikari (1989), dan Vedic Archeology karya Steven J. Rosen (1995), seorang sarjana Hindu yang sebelumnya terlahir dalam keluarga Yahudi.
Seperti kita ketahui, Nabi Muhammad dianggap sebagai rasul atau nabi terakhir dalam Islam. Namun nama dan misi kemunculan Beliau telah diramalkan dalam kitab Atharva Veda, Kanda 20, Sukta 127, Mantra 1-3. Dalam kitab Bhavisya Purana, Parva 3, Kandha 3, Adhya 3, Sloka 5 Nabi Muhammad diramalkan dalam ayat sebagai berikut :


Etan mitrantare mieccha
Acaryana samanvitah
Mahamad iti khyatah
Sivyagrasva samanvitah


Artinya : “An illeterate teacher will come along, Mohhamed by name, and he will give religion to his fith-class companion”
Terjemahan bebasnya : Seorang guru (acarya) yang buta huruf akan datang, namanya Mohammad. Beliau akan mengajarkan agama pada kaum pemuja berhala (mleccha)
Jadi penyebutan nama avatar yang akan muncul adalah standar yang akan digunakan dalam Veda. Ini dimaksudkan untuk menguji kebenaran identitas avatar yang sejati. Dan menghindarai penipuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mungkin mengklaim dirinya sebagai Tuhan atau utusan Tuhan. Jadi telah ada mekanis recheck.
Seperti dalam contoh diatas, nama Mahamad tersebut dalam ayat tersebut. Beliau diramalkan sebgai orang suci diantara kaum buta huruf . Dalam terminology Veda, Nabi Muhammad, Yesus dan Buddha disebut sebagai saktya aveshya avatara atau kekuasaaan untuk menjalankan misi khusus Tuhan sesuai dengan tuntutan keadaan tiap zaman.

Untuk dapat mengetahui kebenaran ramalan ayat itu, kita bisa sekilas menyimak sejarah bangsa Arab, khusunya kota Mekkah dan Arab secara umum pada masa menjelang Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Ini akan berhubungan dengan sejarah panjang berdirinya Ka’bah yang disebut sebagai “Baitullah”, atau ‘Rumah Allah’. Menurut Akif Manaf Jabar PH.D, dalam bukunya the Hidden Treasure of Al-quran (1997) terbitan The Dabhir Khas Book Trust, Nabi Muhammad terlahir sebagai cucu dari Abhu Muttholib, penguasa kota Mekkah yang dipercaya untuk mengurus dan mengelola Ka’bah. Pada masa itu, bangsa Arab telah mencapai kemerosotan sedemikian rupa, sehingga mereka telah melupakan Ka’bah sebagai perantara yang dibenarkan untuk meuja Allah. Bangsa Arab saat itu memuja berhala, yang umumnya merek buat sendiri Ada juga Arca Al-Manat, yang dianggap sebagai permaisuri Allah, atau ‘Dewi Laksmi, Goddess of Fortune” ada patung Al-lat dan Allah. Semula pemujaan kepada ketiganya ini dibenarkan, karena dianggap sebagai perantara antara manusia dan Allah.
Mereka sadar jbahwa sangat sulit bagi manusia biasa untuk mencapai Allah sendirian dibutuhkan perantara orang suci yang ‘dekat’ dengan Allah. Orang suci inilah yuang doanya lebih didengarkan oleh Allah. Karena itu, dibuatlah patung dewa-dewa dan orang suci itu, sebagai media untuk pemujaan kepada Allah. Mereka tahu, bahwa ada dewa yang dipercaya oleh Allah untuk bertugas mengatur curah hujan, dan karenanya, untuk meminta hujan, mereka berdoa dan memuja dewa hujan, bukan kepada Allah secara langsung. Begitu pula untuk kebutuhan lainnya. Dalam pemujaan itu, mereka mempersembahkan makanan, dupa, dan hadiah yang mahal-mahal. Sayangnya, mereka kemudian lebih menonjolkan dan mengutamakan pemujaan kepada patung-patung itu, sampai mengabaikan pemujaan kepada Allah. Padahal, Ka’
Bah didirikan oleh Nabi Adam, dan Hajjar-Al-Ashvad itu dipercaya sebagi penjelmaan malaikat penjaga Adam dan Hawa, yang karena kelalaian menjaga mereka, dikutuk menjadi batu oleh Allah dan dibuang kebumi bersamaan dengan dibuangnya Adam dan Hawa. Menurut sejarah, dulu batu itu berwarna putih susu. Ia berubah menjadi hitam karena menerima dosa dari para peziarah yang menyentuhnya. Selanjutnya, Adam dan Hawa menjadikan Batu Hitam itu sebagai perantara yang dibenarkan untuk memuja Allah, dan menempatkan Batu Hitam itu pada salah satu sudut Ka’bah, untuk menandai titik awal proses mengelilingi Kabah dalam rangka pemujaan kepada Allah. Tradisi itu dipelihara dari generasi ke generasi. Namun pada masa menjelang Nabi Muhammad diturunkan, tradisi mengelilingi Ka’bah tersebut menyimpang. Menurut tradisi, kaum pria mengelilingi Ka’bah itu siang hari dengan telanjang bulat, dan kaum wanita mengelilinginya secara terpisah pada malam hari. Namun penyimpangan terjadi, sehingga mereka bahkan ada yang melakukan zinah dalam Ka’bah. Allah mengutuh menjadi batu, sepasang remaja yang berzinah dalam Ka’bah itu. Namun karena kemerosotan moral, bangsa Arab saat itu bahkan memuja patung dua pendosa itu. Bersamaan dengan itu, hampir 360 arca yang ditempatkan di dalam dan diluar Ka’bah. Sehingga pemujaan pada Allah praktis terlupakan.
Dalam latar belakang suasana seperti itulah, dibutuhkan seoerang utusan Tuhan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kembali penyimpangan prinsip-prinsip dharma, yaitu pemujaan kepada Allah, yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa—milik kita bersama.
Dalam Bhagavad-gita 4.7 dan 4.8, Sri Krsna menyatakan :


Yadayada hi dharmasya
Glanir bhavati bharata
Abhyutthanam adharmasya
Tadatmanam srjamy aham
Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot, dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, wahai Putra Bharata.”

Paritranaya sadhunam
Vinasaya ca duskrtam
Dharma-samsthapanarthaya
Sambhavami yuge yuge


Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang-orang jahat, dan menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku menjelma pada setiap jaman.”
Demikianlah, dalam situasi sperti di Arab itu, Tuhan mengutus Nabi Muhammad dengan misi sebgaimana tercantum dalam ayat Bhagavad-gita di atas, terutama guna menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma yang telah disimpangkan. Penyimpangan yang selslu terjadi pada setiapo jaman. Kitab Veda juga menguraikan, bahwa dalam menegakkan prinsip-prinsip dharma, Tuhan akan menyampaikan ajaran kepada umat di wilaya tertentu dengan memperhatikan waktu, latar belakang, serta kecerdasan umat yang akan menerimanya. Hal ini dapat menjawab pertanyaan : “Kalalu betul Tuhan itu satu, mengapa ajarannya berbeda-beda satu dengan yang lainnya?” Atau “Mengapa ada banyak agama?”. Seperti misalnya, mengapa kita mengenal konsep reinkarnasi, konsep moksa, dan lain-lain yang tidak diajarkan secara terang-terangan.
dalam kitab suci yang lain.
Dalam sejarah Islam terbukti bahwa Nabi Muhammad meman buta huruf sampai umur 40 tahun. Beliau baru bisa membaca, setelah Beliau diangkat oleh Allah sebagai Rasullallah untuk menerima wahyu Al-Quran, melalui malaikat Jibril, setelah bertapa di Gua Hirra. Ayat-ayat Al-Quranditerima oleh Nabi Muhammad selama 22 tahun, diawali pada tanggal 17 Ramazan (tgl 22 Desember 610 M). Karena itulah setiap tanggal 17 Ramadhan diperingati oleh umat Islam segai hari munculnya Al-Quran atau Nuzulul Qur’an.
Sesuai dengan ramalan dalam kitab Bhavisya Purana tersebut diatas, Nabi Muhammad harus mengajarkan kaum mleccha. Mleccha adalah sebutyan untuk manusia pemuja berhala dan berzinah denga saudara kandung sendiri, yuang lebih rendah dari kaum sudra atu disebut kaum jahilliayah dlam istilah Islam. Dlam keadaan seperti itu, Beliau harus lebih banyak menggunkan kekerasan dan perang dlam mengajarkan Islam. Karena situasinya tidak memungkinkan untuk berdakwah secara damai. Nabi Muhammad bahkan harus hijrah dari Mekkah ke Madinah, karena bangsa Quraish berusaha membunuhnya saat mengajarkan amanat Al-Quran. Tidak mengherankan, jika konsep jihad juga amat kentara dalam ayat-ayat Al-Qurandan Hadist. Itu dalam konteks zaman jahilliyah. Sayangnya, ayat-ayat itu sering dimaknai secara tekstual oleh sebagian orang Muslim yang fanatik buta, tanpa memahami konteks bagaimana situasi tertentu saat ayat-ayat tersebut diturunkan.
Begitupun, ungkapan Lailahaillalah, ‘Tiada Tuhan Selain Allah’yang gencar sekali kita dengar itu. Yam, karena pada waktu itu, bangsa jahilliyah itu memuja hampir 360 berhala yang diletakkan dalam Ka’bah dan sekitarnya. Mereka memuja Tuhan-Tuhan berhala itu, padahal nenek moyang mereka sejak jaman Nabi Adam telah mengenal Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.Karena itulah, dalam konteks itu, untuk menegakkan kembali jaran Allah dan pemujaan kepada Allah, Al-Quarn menegaskan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH. Artinya, hanya Allah-lah Tuhan, dan bukan berhala-berhala itu. Itu sebabnya dalam Islam sangat dilarang untuk menggambarka Allah dalam wujud apapun karena trauma dengan sejarh pemujaan berhala. Itu namanya menyekutukan Allah. Musyrik, syirik. Tapi nama Tuhan memang bukan hanya Allah., Buktinya, kita juga akan menemukan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah memiliki Asmaaa-ul-hussana, yaitu 100 nama Allah, yang mana nama-nama itu diberikan berdasarkan berbagai sifat yang dimiliki oleh Allah. Dari 100 nama itu, baru 99 yang diketahui. Nama ke-100 masih rahasia. Misalnya, Allah memiliki nama lain Al-allim yaitu “Beliau Yang Maha Tahu”, atau Al-Kudus—‘Beliau Yang Maha Suci’. Kalau betul Tuhan itu HANYA ALLAH, mengapa ada nama-nama lain selain Allah? Lagi pula nama-nama itu dalam bahasa Arab. Kalau kemudian olehumat Hindu, dalam bahasa Sansekerta, Tuhan Yang Maha Tahu itu disebut Vidhi atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, apakah itu berearti bukan Tuhan? Inilah salah satu bukti bahwa apa yuang ada di Veda, belum tentu ada di tempat lain. Salah satu bukti bahwa Veda bersifat universal. Ingin bukti kelebihan lainnya? Yang jelas banggalah beragama Hindu.